
HMP Pendidikan Sejarah bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY mengadakan kegiatan Seminar Nasional yang dilaksanakan pada Senin, 22 November 2021 yang bertempat di Ruang Multimedia UPY gedung A, seminar dilaksanakan mulai pukul 09.00 – selesai. Kegiatan ini dihadiri oleh narasumber yakni Ir. Yuwono Sri Suwito selaku Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia, kemudian Jujun Kurniawan,M.A selaku tim ahli cagar budaya DIY dan Tri Wahana, M.Pd selaku Dosen Universitas PGRI Yogyakarta. Selain itu kegiatan ini dihadiri para dosen prodi Pendidikan sejarah dan juga mahasiswa Pendidikan sejarah.
Dengan pemateri pertama yakni Ir. Yuwono Sri Suwito memaparkan mengenai Tata Nilai Sumbu Filosofi, beliau menjelaskan Kraton Yogyakarat ini dibangun oleh Pangeran Mangkubumi yang merupakan arsitektur tata ruang kraton. Tata ruang filosofi yang awalnya memiliki konsep Hinduitis kemudian dirubah menjadi filosofi ilsam-jawa. Dengan tata ruang filosofi, di sebelah barat: Kali Gajah Wong, Code Winongo, disebelah Timur: Gunung Merapi, disebelah utara : Tugu Yogyakarta dan disebelah Selatan : Panggung Krapyak. Selain itu juga sumbu visual Kraton Yogyakarta yaknu Gunung dan laut serta sumbu filosofinya adalah Tugu, Panggung Krapyak dan kraton Yogyakarta.
Sementara Pemateri kedua, Jujun Kurniawan, memaparkan materi tentang Atribut warisan Dunia, beliau menjelaskan mengenai modal sosial yang dimiliki kota Yogyakarta bisa dilihat dari Budaya Potensialnya. Yogyakarta juga memiliki cagar budaya seperti Kraton, Pakualaman, Malioboro, Kota Baru, kota Gede, Kraton Yogyakarta. Kota Yogyakarta memiliki 5 element penting yakni laut kidul, panggung krapyak, gunung Merapi, kraton Yogyakarta dan tugu Yogyakarta. Dan dapat dikatakan bahwasannya atribut warisan budaya dimulai dari Panggung Krapyak, Benteng Kraton, Alun-alun utara dan selatan, Taman Sari dan terakhir sumbu tugu kraton.
Sedangkan Tri Wahana selaku dosen Pendidikan Sejarah UPY sekaligus pemateri ketiga memaparkan materi tentang Warisan Budaya Yogyakarta dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan, beliau menjelaskan tentang Kota Yogyakarta mulai dari berdirinya sampai sekarang merupakan wadah perkembangan Yogyakarta yang khas. Sesatu yang khas itu menghasilkan Master dalam berbagai bidang yang membuat Yogyakarta sebagai pusat kreativitas. Masternya yakni Ki Hajar Dewantara, siapa yang tidak kenal dengan beliau. Ki Hajar Dewantara mengembangkan pola Pendidikan yang bersikap kejawen yang mengembangkan nilai nilai jawa. Yogyakarta kini terkenal sebagai kota pelajar.
Sistem Pendidikan yang diterapkan yakni sistem Among dengan konsep pendidikannya yaitu keluarga, Pendidikan dalam alam perguruan(sekolah) dan juga Pendidikan dalam pemuda atau masyarakat. Beliau pun memasukkan kebudayaan dalam pendidikannya dari usia dini seperti konsep Nonton, niteni dan nirokke. Dan semboyan yang terkenal yakni Ing Ngarsa Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Pemikiran dari Ki Hajar Dewantara ini memandang keselarasan antara Guru dan juga Murid dan bisa di katakana keselarasan antara pemimpin dan rakyat.
Dari pemaparan materi tersebut dapat disimpulkan bahwa warisan Budaya Yogyakrta yang menjadi sumbu Filosofi Kota Yogyakarta sampai sekarang ini masih tetap eksis dan juga menjadi cagar budaya yang banyak dikunjungi oleh masyarakat-masyarakat baik dari luar maupun dalam Yogyakarta. Serta dari adanya sesuatu yang khas dari Yogyakarta ini menghasilkan master yang ahli dibidangnya yakni Ki Hajar Dewantara yang melahirkan sistem Pendidikan dengan sistem Among dengan semboyan yang terkenal yakni Ing Ngarsa Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. yang sampai sekarang Pendidikan yang didirikan Ki Hajar Dewantara yang masih eksis yakni Taman Siswa.